Cari Blog Ini

Rabu, 08 September 2010


Masukkan Code ini K1-57Y424-B
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Senin, 06 September 2010

Interaksi Iodium dengan Zat lain

Interaksi Yodium dengan Zat gizi lain

Pendahuluan

Menurut Golden (1992), yodium termasuk dalam klasifikasi/kategori nutrient type I (pertama), bersama sama dengan zat gizi lain seperti besi, selenium, calcium, thiamine dll. Type I ini mempunyai ciri yang apabila kekurangan maka gangguan pertumbuhan bukan merupakan tanda yang pertama melainkan timbul setelah tahap akhir dari kekurangan zat gizi tersebut. Tanda yang spesifik lah yang pertama akan timbul. Dalam hal kekurangan yodium, dapat menyebabkan gangguan akibat kekurangan yodium yang sering disebut Iodine Deficiency Disorder (IDD). Dalam type II, pertumbuhan akan terganggu terlebih dahulu, tetapi memberikan nilai penilaian biokimia cairan tubuh yang normal. Nutrient yang termasuk ini adalah potasium, natrium, zinc dll.

IDD adalah gangguan yang merugikan kesehatan sebagai akibat dari kekurangan yodium, yang kita kenal juga dengan singkatan GAKY. Kekurangan yodium pada tanah menyebabkan masyarakat yang hidup dan bertempat tinggal di daerah tersebut menjadi masyarakat yang rawan terhadap IDD. Yang paling ditakutkan dari kekurangan yodium ini adalah meningkatnya kematian bayi beberapa saat setelah dilahirkan dan perkembangan otak yang terhambat (neonatal hypotyroidsm). Faktor yang berperan dalam kejadian IDD diantaranya adalah adanya hubungan idoium dengan zat lain misalnya thyosianat dan selenium (Thaha dkk, 2001) Tulisan dibawah ini akan membahas lebih lanjut hubungan tersebut.

A. Selenium

Ketersediaan selenium yang kurang pada tanah diduga juga mengandung rendah yodium pada tanah yang sama. Untuk sementara interaksi antara yodium dan selenium dalam proses penyerapan belum ada. Kalaupun ada interkasi ini sangat kompleks dan terkait dengan fungsi fungsi selenium dalam selenoprotein. Pada binatang percobaan ditemukan bahwa kurang selenium meningkatkan kadar T3 di jantung, sehingga dapat menimbulkan peningkatan denyut jantung dan palpasi. Selenoprotein yang juga terlibat dalam interaksi metabolisme yodium ialah iodotyronine deiodinase yang berfingsi merubah thyroxine (T4) menjadi bentuk aktif dari hormon thyroid triiodothyronine (T3) (Satoto, 2001).. Enzym tersebut merupakan selenium-dependent enzymes selain merupakan katalisator utama dalam perubahan thyroxin (T4) menjadi triiodotyronine (T3) juga merupakan katalisator yang merubah dari T3 menjadi T2 untuk mempertahankan level T3 (www.orst.edu/depth/lpi/infocentre/minerals/iodine).

Selain itu, salah satu contoh dari selenoprotein yang berhunbungan dengan metabolisme yodium adalah glutathione peroxidase, berfungsi sebagai antioksidan utama dalam tubuh manusia dan binatang (Satoto, 2001). Dengan adanya gambaran diatas, jelas bahwa akibat dari kekurangan selenium asupan T3 dalam sel tubuh juga menurun.

B. Thiosianat

Tiosiant dikenal sebagai zat goitrogenik yaitu zat yang dapat menghambat transport aktif yodium dalam kelenjar tiroid dan yang paling potential dari zat goitrogenik yang lain. Menurut Bourdoux (1993) dalam Thaha (2001), thyocianat adalah komponen yang utama pada kelompok zat goitrogenik yang dapat mewakili asupan kelompok goitrogenik melalui makanan. Delanggu dalam Thaha (2001) melaporkan bahwa disuatu populasi bila perbandingan antara eksresi yodium dan tiosianat dalam urin (ug/g) kurang dari 3, maka daerah tempat populasi itu berada mempunyai resiko yang potensial untuk terjadinya gondok endemik. Makin kecil perbandingan antara eksresi yodium dan thyiosinat dalam urin maka semakin tinggi tingkat endemisitasnya. Namun demikian, menurut Larsen dan Ingbar dalam Thaha (2001), hambatan oleh pengaruh tiosinat hanya efektif bila konsentrasi yodium plasma normal atau rendah.

Penelitian di Pulau Seram Barat, Seram Utara dan pulau Banda menunjukkan adanya perbedaan ekresi thyocianat yang bermakna antara daerah endemik GAKY dan daerah non-endemik GAKY yang mana kandungan thyosianat tinggi pada daerah kontrol dibandingkan daerah kasus. Hal ini bertentangan dengan dugaan bahwa kandungan thiosinat yang tinggi akan dijumpai pada daerah gondok endemik. Data dari P. Buru menujukkan nilai eksresi tiosianat yang paling tinggi dibanding dengan tiga daerah lain sehingga menyebabkan tingginya nilai tiosinanat di urin pada kelompok kpontrol. Akan tetapi rasio eksresi yodium dan eksresi tiosinat pada urin daerah yang endemik menunjukkan lebih kecil dari pada daerah yang non endemik (Thaha, 2001) yang menandakan bahwa ratio yang semakin kecil menghasilkan resiko yang semakin besar terhadap gondok endemik.

C. Besi

Besi adalah mineral yang paling banyak dipelajari dan diketahui oleh para ahli gizi dan kedokteran di dunia. Penemuan terakhir membuktikan bahwa kekurangan besi dapat menyebabkan terganggunya metabolisme tiroid dalam tubuh manusia. Penelitian yang dilakukan oleh Zimmermann dkk (2000) yang membagi kelompok anak anak yang menderita kekurangan yodium menjadi dua, yaitu anak yang menderita anak yang kekurangan iodine saja dan anak yang menderita kekurangan iodine dan besi. Pada kelompok pertama dan kedua, semua anak diberi 200 mg oral iodine dalam minyak. TSH (thyroid Stimulation Hormon, IU (iodine concentration), T4, dan volume kelenjar thyroid diambil pada awal dan minggu ke 1,5,10, 15 dan 30 minggu sesudah pemebrian. Sesudah 30 minggu pemberian iodine, bagi kelompok yang anaemia karena kekurangan besi diberikan tablet besi (ferrous sulphate) 60 mg secara oral 4 kali perminggu selama 12 minggu. Hasilnya menunjukkan bahwa pada minggu ke 30 setelah pemberian iodine kedua kelompok, terjadi penurunan volume rata-rata tiroid menurun dibandingkan dengan awal sebelum dilakukan pemberian iodine, masing masing 45.1% dan 21.8 % (p<0.01). Pada kelompok yang ke dua, penurunan volume tiroid lebih menurun bila dibandingkan dengan baseline, yaitu menjadi 34.8% pada minggu ke 50 dan 38.4 % pada minggu ke 65. Hal ini menunjukkan bahwa suplementasi besi dapat meningkatkan kemampuan idone dalam minyak pada anak anak yang kekurangan yodium. (Zimmermann, M et al, 2000)



D. Mineral and vitamin lain

Interaksi antara yodium dengan mineral and vitamin lain perlu diteliti lebih lanjut, baik secara laboratorium dengan menggunakan hewan percobaan maupun di lapangan terhadap manusia. Penelitian yang melkihat inetraksi secara langsung antara yodium dengan vitamin A pernah dilakukan namun perlu konfirmasi lebih lanjut. Penelitian oleh van Stuijvenberg dkk, (1999) misalnya yang mengambil 115 anak di Afrika Selatan usia 6-11 tahun yang diberi biskuit selama 43 minggu sampai lebih dari 12 bulan dibandingkan dengan control. Biskuit mengandung besi, yodium, and betha carotene sedangkan control adalah biskuit yang tidak difortifikasi. Pada akhir intervention, terlihat pada tidak ada perbedaan perubahan dalam pengecilan kelenjar tiroid anak anak secara signifikan, Akan tetapi terjadi penurunan jumlah anak anak yang mempunyai eksresi yodium yang rendah (100 ug/L) dari semula berjumlah 97.5% menjadi tinggal 5.4%. Peningkatan eksresi urin tersebut sangat signifikan (p<0.0001). (van Stuijvenberg dkk, 1999).

(MOESIJANTI Y.E. SOEKATRI)


Daftar Pustaka

Golden MHN. Specific deficiency versus growth failure: Type I and type II nutritients. SCN News 1992;No. 12:10-14.

Satoto. Seleneium dan Kurang Iodium dalam Kumpulan Naskah Pertemuan Ilmiah Nasional Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY) 2001 editor Djokomoeljanto, dkk. Semarang, Badan penerbit Universitas Diponegoro. 2001

ICCIDD, UNICEF, WHO. Assessment of Iodine Deficiency Disorders and Monitoring their Elimination. A guide for Programme managers. 2nd Ed. Geneva, 2002.

Thaha, Razak; Dachlan, Djunaidi M; Jafar, Nurhaedar, Jafar. Analisis faktor resiko “coastal goiter” dalam Kumpulan Naskah Pertemuan Ilmiah Nasional Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY) 2001 editor Djokomoeljanto, dkk. Semarang, Badan penerbit Universitas Diponegoro. 2001

Van Stuijvenberg, M Elizabeth et al. Effect of iron-, iodine-, and  carotene-fortified biscuits on the micronutrient status of primary school children: a randomized controlled trial. Am J Clin Nutr 1999; 69: 497-503

Zimmermann M, et al. Iron supplementation in goitrous, iron-deficient children improves their response to oral iodized oil. Eur J Endocrinol 2000; 142(3):217-223

KADARZI

PENDAHULUAN


1. Mengapa Perlu Vitamin A

Vitamin A merupakan zat gizi yang penting (essensial) bagi manusia, karena zat gizi ini tidak dapat dibuat oleh tubuh, sehingga harus dipenuhi dari luar. Tubuh dapat memperoleh vitamin A melalui:

• Bahan makanan seperti : bayam, daun singkong, pepaya matang, hati, kuning telur dan juga ASI.
• Bahan makanan yang diperkaya dengan vitamin A.
• Kapsul vitamin A dosis tinggi.

Vitamin A penting untuk kesehatan mata dan mencegah kebutaan, dan lebih penting lagi, vitamin A meningkatkan daya tahan tubuh. Anak-anak yang cukup mendapat vitamin A, bila terkena diare, campak atau penyakit infeksi lain, maka penyakit-penyakit tersebut tidak mudah menjadi parah, sehingga tidak membahayakan jiwa anak.

Dengan adanya bukti-bukti yang menunjukkan peranan vitamin A dalam menurunkan angka kematian yaitu sekitar 30%-54%, maka selain untuk mencegah kebutaan, pentingnya vitamin A saat ini lebih dikaitkan dengan kelangsungan hidup anak, kesehatan dan pertumbuhan anak.


2. Masalah Kurang Vitamin A

Kurang vitamin A (KVA) di Indonesia masih merupakan masalah gizi utama. Meskipun KVA tingkat berat (Xerophthalmia) sudah jarang ditemui, tetapi KVA tingkat subklinis, yaitu tingkat yang belum menampakkan gejala nyata, masih menimpa masyarakat luas terutama kelompok balita. KVA tingkat subklinis ini hanya dapat diketahui dengan memeriksa kadar vitamin A dalam darah di laboratorium.










Masalah KVA dapat diibaratkan sebagai fenomena “gunung es” yaitu masalah Xerophthalmia yang hanya sedikit tampak dipermukaan


Xeropthalmia




KVA Subklinis



Xerophthalmia merupakan “Puncak Gunung Es”

Padahal, KVA subklinis yang ditandai dengan rendahnya kadar vitamin A dalam darah masih merupakan masalah besar yang perlu mendapat perhatian. Hal ini menjadi lebih penting lagi, karena erat kaitannya dengan masih tingginya angka penyakit infeksi dan kematian pada balita.


3. Pencegahan dan Penanggulangan KVA

Prinsip dasar untuk mencegah dan menanggulangi masalah KVA adalah menyediakan vitamin A yang cukup untuk tubuh. Selain itu, perbaikan kesehatan secara umum turut pula memegang peranan.

Dalam upaya menyediakan vitamin A yang cukup untuk tubuh, ditempuh kebijaksanaan sebagai berikut:

• Meningkatkan konsumsi sumber vitamin A alami melalui penyuluhan
• Menambahkan vitamin A pada bahan makanan yang dimakan oleh golongan sasaran secara luas (fortifikasi)
• Distribusi kapsul vitamin A dosis tinggi secara berkala.

Upaya meningkatkan konsumsi bahan makanan sumber vitamin A melalui proses komunikasi-informasi-edukasi (KIE) merupakan upaya yang paling aman dan langgeng. Namun disadari bahwa penyuluhan tidak akan segera memberikan dampak nyata. Selain itu kegiatan fortifikasi dengan vitamin A masih bersifat rintisan. Oleh sebab itu penanggulangan KVA saat ini masih bertumpu pada pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi.



TUJUAN


Kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000 SI) terbukti efektif untuk mengatasi masalah KVA pada masyarakat apabila cakupannya tinggi (minimal 80%). Cakupan tersebut dapat tercapai apabila seluruh jajaran kesehatan dan sektor-sektor terkait dapat menjalankan peranannya masing-masing dengan baik.

1. Tujuan Umum

Menurunkan prevalensi dan mencegah kekurangan vitamin A pada anak-anak balita.

2. Tujuan Khusus

2.1. Cakupan pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi paling sedikit 80% dari seluruh sasaran.
2.2. Seluruh jajaran kesehatan mengetahui tugas masing-masing dalam kegiatan distribusi kapsul vitamin A dosis tinggi, dan melaksanakan tugas tersebut dengan baik.
2.3. Seluruh sektor terkait mengetahui peranan masing-masing dalam kegiatan distribusi kapsul vitamin A dosis tinggi dan melaksanakan peran tersebut dengan baik.



CARA PEMBERIAN

1. Sasaran

1.1. Bayi
Kapsul vitamin A 100.000 SI diberikan kepada semua anak bayi (umur 6-11 bulan) baik sehat maupun sakit.
1.2. Anak Balita
Kapsul vitamin A 200.000 SI diberikan kepada semua anak balita (umur 1-5 tahun) baik sehat maupun sakit.
1.3. Ibu Nifas
Kapsul vitamin A 200.000 SI diberikan kepada ibu yang baru melahirkan (nifas) sehingga bayinya akan memperoleh vitamin A yang cukup melalui ASI.

Catatan :
Untuk keamanan, kapsul vitamin A 200.000 SI tidak diberikan kepada bayi (6-11 bulan) dan ibu hamil karena merupakan kontra indikasi.


2. Dosis Vitamin A

2.1. Secara Periodik

a. Bayi umur 6-11 bulan
Satu kapsul vitamin A 100.000 SI tiap 6 bulan, diberikan secara serentak pada bulan Februari atau Agustus
b. Anak Balita umur 1-5 tahun
Satu kapsul vitamin A 200.000 SI tiap bulan, diberikan secara serentak pada bulan Februari dan Agustus
c. Ibu Nifas
Satu kapsul vitamin A 200.000 SI dalam masa nifas. Kapsul vitamin A diberikan paling lambat 30 hari setelah melahirkan.

2.2. Kejadian Tertentu

a. Xerophthalmia:
Bila ditemukan seseorang dengan salah satu tanda xerophthalmia seperti: buta senja, bercak putih (bercak bitot), mata keruh atau kering:

• Saat ditemukan:
Segera diberi 1 (satu) kapsul vitamin A 200.000 SI
• Hari berikutnya:
1 (satu) kapsul vitamin A 200.000 SI
• Empat minggu berikutnya:
1 (satu) kapsul vitamin A 200.000 SI

b. Campak
Anak yang menderita campak, segera diberi satu kapsul vitamin A 200.000 SI. Untuk bayi diberi satu kapsul vitamin A 100.000 SI.

Catatan:
Bila di suatu desa terdapat “Kejadian Luar Biasa (KLB)” campak, maka sebaiknya seluruh anak balita di desa tersebut masing-masing diberi satu kapsul vitamin A 200.000 SI dan seluruh bayi diberi kapsul vitamin A 100.000 SI.

3. Periode Pemberian

3.1. Bulan Kapsul
Untuk tujuan pencegahan, pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi diberikan kepada bayi dan anak balita secara periodik, yaitu untuk bayi diberikan setahun sekali pada bulan Februari atau Agustus; dan untuk anak balita enam bulan sekali, dan secara serentak dalam bulan Februari dan Agustus.
Pemberian secara serentak dalam bulan Februari dan Agustus mempunyai beberapa keuntungan:
• Memudahkan dalam memantau kegiatan pemberian kapsul, termasuk pencatatan dan pelaporannya, karena semua anak mempunyai jadwal pemberian yang sama.
• Memudahkan dalam upaya penggerakkan masyarakat, karena kampanye dapat dilakukan secara nasional di samping secara spesifik daerah.
• Memudahkan dalam pembuatan materi-materi penyuluhan (spot TV, spot radio, barang-barang cetak) terutama yang dikembangkan, diproduksi dan disebarluaskan oleh tingkat Pusat/Propinsi.
• Dalam rangka Hari Proklamasi RI (Agustus) biasanya banyak kegiatan-kegiatan yang dapat digunakan untuk promosi kesehatan, termasuk pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi.
• Bulan Februari dan Agustus merupakan bulan pemantauan garam beryodium di tingkat masyarakat, sehingga kegiatan tersebut dapat diintegrasikan di tingkat Puskesmas.

3.2. “Sweeping”/Kunjungan Rumah
Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan pemberian kapsul vitamin A.
• Bila masih ada bayi dan anak balita yang belum mendapat kapsul vitamin A pada hari pemberian yang telah ditentukan, perlu dilakukan “Sweeping” yaitu melacak/mencari bayi dan anak balita tersebut untuk diberi kapsul vitamin A, dengan melakukan kunjungan rumah. Diharapkan dengan kegiatan bulan kapsul dan sweeping semua bayi (6-11 bulan) dan anak balita (1-5 tahun) dapat dicakup 100% dengan pemberian kapsul vitamin A.
• “Sweeping”/kunjungan rumah sebaiknya dilakukan segera setelah hari pemberian dan paling lambat sebulan setelahnya. Untuk memudahkan pencatatan dan pelaporan, akhir minggu ketiga bulan Maret (untuk periode Februari) dan akhir minggu ketiga bulan September (untuk periode Agustus) seluruh kegiatan “Sweeping” hendaknya sudah selesai.
• Bila setelah “Sweeping” masih ada anak yang belum mendapat kapsul, maka agar diupayakan lagi meskipun sudah diluar periode pemberian.
Ini perlu dicatat tersendiri dan dilaporkan sebagai cakupan periode berikutnya (lihat Pencatatan dan Pelaporan).

3.3. Ibu Nifas
Pemberian kapsul vitamin A 200.000 SI kepada ibu pada masa nifas dapat diberikan:
• Segera setelah melahirkan, atau
• Pada kunjungan pertama neonatal, atau
• Pada kunjungan kedua neonatal.

4. Tempat Pemberian
4.1. Sebagai upaya pencegahan, kapsul vitamin A diberikan kepada seluruh bayi 6-11 bulan dan anak balita (1-5 tahun) di Posyandu pada hari buka Posyandu.
4.2. Untuk wilayah yang belum memiliki Posyandu atau yang kunjungan Posyandunya rendah, Puskesmas perlu memberi perhatian dan upaya khusus, misalnya dengan membentuk pos pemberian vitamin A (Posvita), Dasa Wisma, Kelompok peminat KIA (KPKIA) atau melalui perkumpulan lain, atau kunjungan rumah. Tugas ini akan lebih mudah bila menggalang kerja sama diantara kader, LKMD, PKK, LSM dan tokoh masyarakat.

5. Pengadaan Vitamin A
Untuk tahun 1999/2000, Depkes memperoleh bantuan kapsul vitamin A 100.000 SI dari UNICEF, selanjutnya diadakan dari DIP Perbaikan Gizi (Pusat/Daerah) bersama dengan pengadaan mikronutrien lain (kapsul vitamin A 100.000 SI dan 200.000 SI, kapsul minyak beryodium, tablet tambah darah, sirop besi).
PERSIAPAN


1. Penentuan Jumlah Sasaran

1.1. Tingkat Posyandu
a. Bayi dan Anak Balita
• Dasar penentuan jumlah sasaran (bayi umur 6-11 bulan dan anak baita umur 1-5 tahun) adalah registrasi di seluruh wilayah kerja.
• Untuk wilayah yang belum memiliki Posyandu, dapat diupayakan melalui cara lain, misalnya melalui PKK atau LSM lain, perkumpulan arisan atau perkumpulan lain.
• Registrasi sebaiknya dilakukan sebulan menjelang bulan kapsul dan dapat dilakukan oleh kader Posyandu/kader lain, pamong desa/pengurus RT.
• Cara registrasi lihat Bab PELAKSANAAN.

b. Ibu Nifas
• Jumlah sasaran ditentukan berdasar jumlah ibu bersalin/nifas.
• Angka tersebut dapat diperoleh dari registrasi sasaran dan laporan persalinan oleh dukun bayi.

1.2. Tingkat Puskesmas

a. Bayi dan Anak Balita
• Petugas Puskesmas dibantu koordinator kader di desa mengumpulkan hasil registrasi dari Posyandu/tempat lain yang telah disepakati.
• Hasil-hasil registrasi tersebut dijumlahkan. Angka yang diperoleh sebaiknya dicek dengan hasil pencatatan PLKB maupun data sensus desa dan kecamatan untuk memastikan agar tidak ada yang terlewat.
• Hasil yang diperoleh merupakan jumlah sasaran untuk tingkat Puskesmas/Kecamatan. Hasil ini kemudian dikirim ke tingkat Kabupaten.

b. Ibu Nifas
• Petugas Puskesmas mengumpulkan hasil registrasi sasaran KIA tiap-tiap desa, laporan persalinan oleh dukun bayi dan data kohort ibu yang ada di Puskesmas.
• Data harus dicek agar tidak terjadi duplikasi perhitungan sasaran.
• Hasil yang diperoleh merupakan jumlah sasaran untuk tingkat Puskesmas.

1.3. Tingkat Kabupaten

a. Bayi dan Anak Balita
• Laporan jumlah sasaran dari semua Puskesmas/Kecamatan dijumlahkan. Hasilnya perlu dicek dengan catatan kependudukan di tingkat Kabupaten (jumlah anak umur 1-5 tahun kira-kira 10.3% dari jumlah penduduk).
• Hasil yang diperoleh merupakan jumlah sasaran untuk tingkat Kabupaten. Hasil ini kemudian dikirim ke tingkat propinsi.

b. Ibu Nifas
• Laporan jumlah sasaran dari semua Puskesmas dijumlahkan.
• Hasil yang diperoleh merupakan jumlah sasaran untuk tingkat Kabupaten.

1.4. Tingkat Propinsi dan Tingkat Pusat
Prosesnya sama seperti tingkat Kabupaten. Untuk tingkat Propinsi, dasar penentuan adalah data tingkat Kabupaten dan untuk tingkat Pusat (Nasional) dasarnya adalah data tingkat Propinsi. Semuanya perlu di cek dengan statistik kependudukan yang terbaru.


2. Pengadaan Kapsul

Di Posyandu/tempat-tempat lain yang telah disepakati, kapsul vitamin A sudah harus tersedia dalam jumlah yang cukup sebelum bulan pembagian kapsul. Dengan demikian pengadaan kapsul di tingkat yang lebih atas (Kecamatan, Kabupaten, Propinsi dan Pusat) harus dilakukan jauh sebelumnya sehingga tidak terlambat sampai di tingkat Posyandu.

2.1. Jumlah Sasaran
Ditentukan berdasarkan registrasi di tingkat Posyandu dan hasil rekapitulasi di tingkat Kecamatan/Puskesmas sampai dengan tingkat Nasional. Karena pengadaan kapsul mulai dari pemesanan di tingkat Pusat sampai ke tingkat Posyandu/tempat lain yang telah disepakati, memerlukan waktu yang cukup lama (sekitar setahun).
Maka untuk menentukan jumlah kebutuhan periode ini, dapat digunakan data periode sebelumnya dengan perkiraan penambahan/pengurangan jumlah tertentu sesuai pengalaman setempat. Jumlah kapsul yang diperlukan adalah 2 kali jumlah sasaran untuk 2 kali pemberian.

2.2. Stok Kapsul dan penggunaannya
Dalam memesan jumlah kapsul harus memperhatikan stok yang masih ada, yaitu jumlah yang diperlukan dikurangi dengan persediaan yang masih ada. Dalam penggunaannya hendaknya mendahulukan yang lama (“first in first out”).

2.3. Kemasan
Kemasan kapsul merupakan hal yang perlu pula mendapat perhatian. Satu kemasan (botol plastik) berisi 50 kapsul. Untuk pengiriman ke Posyandu sebaiknya tetap dalam kemasan tersebut (jangan dibuka). Jadi misalnya jumlah sasaran di suatu Posyandu adalah 70 anak, sebaiknya dikirim 2 botol. Sisanya tetap disimpan dalam botol di Posyandu/tempat lain yang telah disepakati, dan untuk periode pemberian berikutnya bila jumlah sasaran tetap sama, Puskesmas hanya perlu mengirim 1 botol saja.

2.4. Jalur Pengiriman
Pengadaan kapsul dilaksanakan oleh Kantor Wilayah Departemen kesehatan tingkat propinsi yang dikirim langsung ke Kandep/Dinas Kesehatan Dati II melalui gudang farmasi kabupaten, dan selanjutnya dikirim ke Puskesmas dan Posyandu.
Pengiriman ke Posyandu/ tempat lain yang telah disepakati,dilakukan menjelang bulan kapsul. Ini dapat dilakukan oleh petugas Puskesmas dibantu koordinator kader, saat mencatat hasil registrasi.

2.5. Penyimpanan Kapsul
Agar kapsul tidak lekas rusak, penyimpanan harus :
• Tetap dalam botol kemasan yang ditutup rapat; jangan dipindah ke wadah lain seperti kantong plastik atau botol lain.
• Disimpan di tempat yang teduh (tidak terkena sinar matahari), kering, tidak lembab dan mudah diingat.

3. Pembiayaan

Pembiayaan untuk kegiatan pemberian kapsul ini antara lain diperlukan untuk :
• pengadaan kapsul
• pengiriman dari Tingkat Pusat sampai ke Tingkat Desa/ Posyandu
• penggerakkan masyarakat
• registrasi
• pemantauan dan upaya tindak lanjut, misalnya untuk “sweeping” (kunjungan dari rumah ke rumah)
• untuk pencatatan dan pelaporan
Biaya dapat diusahakan dari APBN, APBD atau sumber lain.


PELAKSANAAN

1. Penggerakkan Masyarakat/Kampanye

Tujuan pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi dapat tercapai apabila seluruh jajaran kesehatan dan sektor terkait, khususnya yang terlibat dalam program UPGK, menjalankan peranannya dengan baik, dan melibatkan semua pihak yang potensial seperti : kader, kepala desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, PKK dan organisasi lainnya.

Kegiatan kampanye bertujuan untuk meningkatkan kepedulian semua pihak yang terkait pada program penanggulangan KVA, termasuk ibu-ibu balita, khususnya pada kegiatan distribusi kapsul vitamin A.

Sebulan menjelang bulan kapsul vitamin A yaitu sekitar bulan Januari dan Juli sampai dengan pelaksanaan distribusi, perlu diadakan gerakan KIE/penyuluhan, berupa kampanye untuk menggerakkan masyarakat di semua tingkat administrasi.

1.1. Tingkat Pusat

a. Penggerak KIE
• Departemen Kesehatan : Ditjen Binkesmas, Pusat PKM
• Departemen Dalam negeri : Ditjen Bangdes
• Instansi pemerintah lain
• Lembaga Swadaya Masyarakat : PKK dan lain-lain.
b. Kegiatan
• Kampanye melalui radio, televisi, surat kabar dan bahan cetak lain
• Konferensi pers
• Instruksi/ pemberitahuan/ pesan kejajaran masing-masing sektor
c. Bahan KIE
• Materi-materi penyuluhan seperti brosur dan poster tentang vitamin A
• Paket informasi vitamin A, berupa kumpulan makalah tentang vitamin A
• Hasil monitoring/evaluasi program, hasil riset dan lainnya.

1.2. Tingkat Propinsi

a. Penggerak KIE
• Gubernur
• BPGD (Tim UPGK)
• Pokjanal Posyandu
b. Kegiatan
Seperti kegiatan di tingkat Pusat, ditambah bila ada kegiatan-kegiatan rintisan lainnya di tingkat Propinsi
c. Bahan KIE
Seperti tingkat Pusat

1.3. Tingkat Kabupaten
a. Penggerak KIE
• Bupati
• BPGD (Tim UPGK)
• Pokjanal Posyandu
b. Kegiatan
• Kampanye melalui radio Pemda, radio swasta, surat kabar, pertemuan-pertemuan atau Rakorbang
• Instruksi/ pemberitahuan/ pesan kejajaran masing-masing sektor
c. Bahan KIE
Seperti tingkat Propinsi

1.4. Tingkat Kecamatan
a. Penggerak KIE
• Camat
• Dokter Puskesmas
• KP2GD
• Pokjanal Posyandu
b. Kegiatan
Pemberitahuan/pesan melalui diskusi kelompok, diskusi UDKP dan khotbah-khotbah.
c. Bahan KIE
Seperti tingkat Kabupaten

1.5. Tingkat Desa
a. Penggerak KIE
• Kepala Desa
• Pengurus LKMD
• LSM
• Bidan di Desa
b. Kegiatan
Pemberitahuan/pesan melalui rapat desa atau pertemuan lain dan kunjungan rumah.
c. Bahan KIE
• Materi penyuluhan berupa poster dan brosur tentang vitamin A
• Laporan cakupan kapsul distribusi kapsul

2. Registrasi Sasaran

Satu bulan sebelum jadwal pemberian kapsul vitamin A, yaitu pada bulan Januari dan bulan Juli perlu disiapkan daftar sasaran (bayi umur 6-11 bulan dan anak balita umur 1-5 tahun), untuk pertama kali perlu dilakukan registrasi, yaitu mendaftar semua bayi umur 6-11 bulan dan anak balita umur 1-5 tahun di wilayah kerja Posyandu/Posvita.

2.1. Kegunaan
Registrasi anak balita penting untuk :
• mengetahui jumlah sasaran,
• mengetahui jumlah kapsul yang diperlukan pada tiap periode
• mengetahui jumlah anak yang sudah atau yang belum mendapat kapsul, sebagai dasar untuk melaksanakan upaya tindak lanjut, misalnya untuk melakukan “sweeping”, dan
• untuk menghitung cakupan

2.2 Cara
• Registrasi dilakukan dengan menggunakan formulir Registrasi (lihat lampiran)
• Registrasi dapat dilakukan oleh kader Posyandu/kader lain atau petugas RT, dibawah koordinasi Kepala Desa, bila perlu dengan cara melakukan pencatatan dari rumah ke rumah
• Pada tiap periode daftar registrasi perlu diperbaharui sesuai keadaan terakhir. Anak-anak yang telah berumur lebih dari 5 tahun dikeluarkan dari daftar, demikian juga anak yang pindah dari wilayah itu. Sebaliknya anak yang sudah mencapai umur 6 bulan harus masuk dalam daftar, demikian juga bagi pendatang baru.

3. Pemberian Kapsul

3.1. Secara Periodik
Pemberian dilakukan tiap bulan Februari dan Agustus di meja-4 Posyandu pada hari buka Posyandu, atau di tempat lain yang telah disepakati bersama. Kapsul tidak boleh dibawa pulang, jadi harus diberikan kepada anak pada saat itu. Bila pada hari pemberian ada anak yang tidak datang, perlu dilakukan upaya untuk mencapai anak itu (lihat Bab : Cara Pemberian).

• Pemberian dapat dilakukan oleh kader, ketua RT/RW, Kepala Desa, bidan desa dan lainnya.
• Cara memberikannya ialah dengan menggunting ujung/puting kapsul sampai terbuka, kemudian pencet kapsul sampai semua isinya masuk mulut anak.
• Bagi balita yang sudah besar, dapat diberikan kepadanya satu kapsul tersebut. Beri air minum bila perlu. Jadi, tidak perlu menggunting ujung kapsul.
Setiap pemberian kapsul vitamin A dicatat di formulir registrasi dan juga di KMS (lihat Pencatatan dan Pelaporan).

3.2. Ibu Nifas
• Pemberian dilakukan oleh petugas Puskesmas, Bidan Desa dan Dukun Bayi
• Pemberian dapat dilakukan pada waktu pertolongan bersalin atau kunjungan rumah

3.3. Kejadian Tertentu
• Bila oleh petugas Puskesmas ditemukan kasus xerophthalmia atau kasus campak, harus segera diberi kapsul vitamin A sesuai anjuran (lihat Bab : Cara Pemberian)
• Bila kader atau anggota masyarakat lain yang menemukan kasus xerophthalmia, hendaknya kasus tersebut segera dikirim ke Puskesmas

4. Pemantauan dan Tindak Lanjut

Petugas Puskesmas harus memantau kegiatan pemberian kapsul sekaligus mengumpulkan hasil cakupan. Untuk itu perlu menyusun jadwal sedemikian rupa agar seluruh Posyandu/Pos distribusi dapat terpantau.

Apabila cakupan pemberian kapsul masih rendah (di bawah 80%), petugas Puskesmas hendaknya bersama-sama kepala Desa dan pengurus LKMD membahas masalah ini, dan mengorganisir kegiatan untuk mencapai anak-anak yang belum mendapat kapsul, antara lain melalui “sweeping” yaitu mengunjungi tiap anak yang belum mendapat kapsul. Sebaliknya, tidak menitipkan kapsul kepada orang lain.



PENCATATAN DAN PELAPORAN


Pencatatan dan pelaporan dilakukan secara berjenjang mulai dari tingkat Posyandu/Pos Vitamin A sampai dengan tingkat Pusat. Pencatatan dan pelaporan menggunakan formulir-formulir seperti tercantum pada lampiran.

1. Posyandu

• Menjelang bulan pemberian kapsul vitamin A, tiap Posyandu/tempat lain yang telah disepakati, harus sudah siap dengan daftar nama semua bayi umur 6-11 bulan dan anak balita umur 1-5 tahun di wilayahnya, yang dicatat pada formulir Registrasi.
• Setiap pemberian kapsul vitamin A, baik yang diberikan di posyandu/tempat lain yang telah disepakati, maupun yang diberikan melalui “Sweeping” harus dicatat di KMS dan di formulir registrasi. (lihat contoh).
• Pemberian di luar periode “Sweeping” harus dicatat tersendiri, dan dimasukkan sebagai cakupan periode berikutnya. Jadi, anak yang dicakup setelah bulan Maret, dilaporkan sebagai cakupan periode Agustus. Demikian pula anak yang dicakup setelah bulan September, dilaporkan sebagai cakupan periode Februari.

2. Tingkat Desa

• Pada minggu keempat bulan Maret/September, yaitu setelah selesai “Sweeping” koordinator kader mengumpulkan hasil pemberian vitamin A dari seluruh Posyandu/tempat lain yang telah disepakati di wilayahnya.
• Dengan menggunakan (Lampiran 1), dicatat/dihitung cakupan dari masing-masing tempat, kemudian direkapitulasi untuk memperoleh cakupan tingkat Desa.
• Catatan/laporan dibuat rangkap dua, masing-masing untuk Puskesmas dan untuk arsip di tingkat Desa.

3. Tingkat Puskesmas

• Pada minggu pertama bulan April/Oktober koordinator gizi Puskesmas mengumpulkan hasil pencatatan dari desa-desa di wilayahnya
• Koordinator gizi Puskesmas mencatat hasil cakupan tiap desa, kemudian direkapitulasi untuk memperoleh cakupan tingkat Desa. Bila ada Desa yang belum melapor, petugas Puskesmas hendaknya membicarakan hal ini dengan koordinator kader dan Kepala Desa dan membantu membuat laporan tersebut.
• Catatan/laporan tersebut dibuat rangkap tiga, masing-masing dikirim ke Dinkes Dati II, tembusan ke Kandepkes Kabupaten dan untuk arsip Puskesmas.
• Setiap ibu nifas yang telah mendapat kapsul vitamin A agar dicatat dalam kohort ibu dan dilaporkan melalui SP2TP dalam formulir LB3.

4. Tingkat Kabupaten

• Laporan dari seluruh Puskesmas diharapkan telah sampai di tingkat Kabupaten pada minggu kedua bulan April/ Oktober.
Bila pada waktu tersebut masih ada Puskesmas yang belum mengirim laporan, Seksi Gizi kabupaten hendaknya menghubungi Puskesmas yang bersangkutan agar segera mengirim laporan.
• Koordinator gizi tingkat kabupaten mencatat hasil cakupan tiap puskesmas, dan merekapitulasi untuk mendapatkan cakupan tingkat Kabupaten.
• Untuk memperoleh data cakupan vitamin A tingkat Kabupaten hendaknya menggunakan sumber data formulir LB3 dari Puskesmas.
• Catatan/laporan tersebut dibuat rangkap tiga, masing-masing dikirim ke Kepala Dinkes Dati I, tembusan ke kepala kesehatan propinsi dan untuk arsip tingkat Kabupaten.
• Diharapkan tingkat kabupaten melakukan analisa data cakupan pada setiap periode (Agustus dan Februari) untuk kemudian melakukan supervisi pada daerah-daerah yang cakupannya rendah pada saat ada kegiatan sweeping.

5. Tingkat Propinsi

• Laporan dari seluruh Kabupaten diharapkan telah sampai di tingkat Propinsi pada minggu ketiga bulan April/Oktober.

Bila pada waktu tersebut masih ada kabupaten yang belum mengirim laporan, Seksi Gizi Dinas Dati I/Kanwil Kesehatan hendaknya menghubungi Kabupaten yang bersangkutan agar segera mengirim laporan.
• Petugas Seksi Gizi Dati I/Kanwil Kesehatan mencatat hasil cakupan tiap Kabupaten, dan merekap untuk mendapatkan cakupan tingkat Propinsi.
• Catatan/laporan tersebut dibuat rangkap tiga, masing-masing untuk Direktorat Bina Gizi Massyarakat, Kepala Dinkes Dati I/Kepala Kanwil Kesehatan, dan arsip.

6. Tingkat Pusat

• Laporan dari seluruh Propinsi diharapkan telah sampai di tingkat Pusat (Direktorat Bina Gizi Masyarakat) pada minggu keempat bulan April/Oktober. Bila pada waktu tersebut masih ada Propinsi yang belum melapor, Direktorat Bina Gizi Masyarakat hendaknya menghubungi Propinsi yang bersangkutan agar segera mengirim laporan.
• Dit. Bina Gizi Masyarakat mencatat hasil cakupan tiap Propinsi dan merekapitulasi untuk memperoleh cakupan nasional.


PESAN POKOK TENTANG VITAMIN A

A. Untuk petugas kesehatan terutama petugas Puskesmas dan Bidan Desa.

1. Umum
a. Kapsul vitamin A meningkatkan daya tahan tubuh bayi dan balita serta dapat mencegah kebutaan
b. Februari – Agustus waktu yang tepat untuk mendapatkan kapsul vitamin A bagi bayi dan balita
c. Ibu-ibu setelah melahirkan (masa nifas), segera beri satu kapsul vitamin A.

2. Kegiatan Tertentu
a. Anak dengan salah satu tanda xerophthalmia : buta senja, bercak putih, mata keruh, mata kering.
Pertama : Saat ditemukan segera beri satu kapsul vitamin A.
Kedua : Hari berikutnya beri satu kapsul vitamin A.
Ketiga : 4 minggu berikutnya beri satu kapsul vitamin A.
b. Anak balita yang menderita campak segera beri satu kapsul vitamin A.

Bila di suatu desa terdapat “Kejadian Luar Biasa” (KLB), beri seluruh anak di desa itu masing-masing satu kapsul vitamin A.

B. Untuk Kader

1. Umum
a. Vitamin A meningkatkan daya tahan tubuh, sehingga penyakit-penyakit seperti diare, batuk, pilek atau campak tidak mudah menjadi parah dan tidak membahayakan jiwa anak. Vitamin A mencegah kebutaan.
b. Beri satu kapsul vitamin A setiap Februari dan Agustus bagi bayi dan balita sehat atau sakit di Posyandu atau tempat lain.

2. Kejadian Tertentu
a. Anak balita dengan salah satu tanda kekurangan vitamin A seperti : buta senja, mata kering atau keruh, tidak mengkilap atau kotor/bercak putih, segera kirim ke Puskesmas.
b. Anak balita yang menderita campak, segera kirim ke Puskesmas.

C. Untuk Ibu Balita
• Vitamin A mencegah kebutaan dan membuat anak menjadi lebih sehat dan kuat.
• Bawalah bayi (6-11 bulan) dan balita (1-5 tahun) ke Posyandu pada bulan Februari dan Agustus untuk diberi kapsul vitamin A.

Kerja Keras dan Kerja Cerdas: ASI eksklusif

Kerja Keras dan Kerja Cerdas: ASI eksklusif: "Mengapa dianjurkan untuk 6 bulan pertama? Pedoman internasional yang menganjurkan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama didasarkan ..."

ASI eksklusif

Mengapa dianjurkan untuk 6 bulan pertama?

Pedoman internasional yang menganjurkan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama didasarkan pada bukti ilmiah tentang manfaat ASI bagi daya tahan hidup bayi, pertumbuhan, dan perkembangannya. ASI memberi semua energi dan gizi (nutrisi) yang dibutuhkan bayi selama 6 bulan pertama hidupnya. Pemberian ASI eklusif mengurangi tingkat kematian bayi yang disebabkan berbagai penyakit yang umum menimpa anak-anak seperti diare dan radang paru, serta mempercepat pemulihan bila sakit dan membantu menjarangkan kelahiran.

Apakah pemberian cairan tambahan lebih awal, umum dilakukan?
jika ya, mengapa?

Kebiasaan memberi air putih dan cairan lain seperti teh, air manis, dan jus kepada bayi menyusui dalam bulan-bulan pertama, umum dilakukan di banyak negara seperti di Indonesia. Kebiasan ini seringkali dimulai saat bayi berusia sebulan. Riset yang dilakukan di pinggiran kota Lima, Peru menunjukan bahwa 83 % bayi menerima air putih dan teh dalam bulan pertama. penelitian di masyarakat Gambia, Filipina, Mesir, dan Guatemala melaporkan bahwa lebih dari 60% bayi baru lahir diberi air manis dan /atau teh.

Alasan untuk memberi tambahan cairan kepada bayi berbeda sesuai nilai budaya masyarakatnya masing-masing. alasan yang paling sering dikemukakan adalah:
-  Diperlukan untuk hidup
-  Menghilangkan rasa haus
-  Menghilangkan rasa sakit (dari sakit perut atau sakit telinga)
-  Mencegah dan mengobati pilek dan sembelit
-  Menenangkan bayi/ membuat bayi tidak rewel

Nilai budaya dan keyakinan agama juga ikut mempengaruhi pemberian cairan sebagai minuman tambahan untuk bayi. Dari generasi ke generasi diturunkan keyakinan bahwa bayi sebaiknya diberi cairan. Air dipandang sebagai sumber kehidupan-suatu kebutuhan batin maupun fisik sekaligus. Sejumlah kebudayaan menganggap tindakan memberi air kepada bayi baru lahir sebagai cara menyambut kehadiranya di dunia.


Di banyak masyarakat dan rumah sakit, saran dari petugas kesehatan juga mempengaruhi pemberian cairan ini. sebagai contoh, penelitian di sebuah kota di Ghana menunujukan 93% bidan berpendapat cairan harus diberikan kepada semua bayi sejak hari pertama kelahirannya. di Mesir, banyak perawat menyarankan para ibu untuk memberi air manis kepada bayinya segera setelah melahirkan.

Seberapa banyak kebutuhan cairan 
bayi usia di atas 6 bulan?

Petunjuk tentang kebutuhan cairan bayi usia di atas 6 bulan kurang begitu jelas dibandingkan usia 6 bulan pertama. Pada usia 6 bulan, perlu diperkenalkan makanan pendamping, yaitu makanan tambahan selain ASI untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi yang meningkat. Jenis makanan yang dikonsumsi bayi mempengaruhi jumlah kebutuhan airnya. Umumnya kebutuhan cairan bayi usia 6-11 bulan dapat dipenuhi dari ASI saj. Cairan tambahan dapat diperoleh dari buah atau jus buah, sayuran, atau sedikit air matang setelah pemberian makan.

Penting diperhatikan untuk menjamin bahwa air putih dan cairan lain tidak menggantikan ASI. air dapat menghilangkan atau mengencerkan kandungan gizi dari makanan pendamping kaya energi. energi yang dihasilkan dari bubur, sop, kaldu, dan makanan cair lain yang diberikan kepada bayi umumnya di bawah batas yang dianjurkan untuk jumlah air yang ditambahkan pada makanan ini dapat meningkatkan kondisi gizi anak dalam kelompok usia ini.

Sumber:
Almroth SG, Bidinger P. No need for water supplementation
for exclusively breastfed infants under hot and arid
conditions. T Roy Soc Trop Med H 1990; 84,602-4.
Armelini PA, Gonzalez CF. Breastfeeding and fluid intake in
a hot climate. Clin Pediatr 1979; 18:425-5.
Brown K et. al. Infant-feeding practices and their relationship
with diarrheal and other diseases in Huascar (Lima), Peru.
Pediatrics 1989 Jan; 83 (1):31-40.
Glover J, Sandilands M. Supplementation of breastfeeding
infants and weight loss in hospital. J Hum Lact 1990
Dec;6 (4):163-6.
Goldber, NM, Adams E. Supplementary water for breast-fed
babies in a hot and dry climate - not really a necessity. Arch
Dis Child 1983; 58:73-74.
www.linkagesproject.org.pdf

a_bout Gizi Kesehatan Masyarakat

Mata Kuliah Berkaitan dengan 
Peminatan Gizi Kesehatan Masyarakat
Gizi Kesehatan Masyarakat
 
oleh :
Susilo Budi Nugroho
IKM.FIK.UNNES Semarang

A.  Kompetensi
1.       Mampu menguasai dasar-dasar ilmu gizi (zat gizi dan sumber bahan pangan, kebutuhan dan cakupan zat gizi) sehingga mampu berfikir, bersikap dan bertindak dalam memecahkan masalah kesehatan dan gizi di masyarakat.
2.       Mampu merencanakan dan mengelola upaya-upaya pelayanan gizi sesuai dengan situasi dan kondisi daerah setempat dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada dan mengevaluasinya.
3.       Mampu mengidentifikasi masalah gizi dalam masyarakat, menentukan prioritas masalah dan alternatif pemecahan masalah gizi dalam masyarakat  guna meningkatkan taraf kesehatan dan gizi masyarakat.
4.       Mampu menggunakan prinsip-prinsip dan metoda-metoda gizi kesehatan masyarakat dalam memecahkan masalah gizi kesehatan masyarakat  di Indonesia yang bersifat preventif dan promotif, tanpa mengabaikan program yang bersifat kuratif dan rehabilitatif.
5.       Mampu merencanakan, melaksanakan dan mengevalusi program-program gizi di Institusi Kesehatan.
6.       Mampu mendidik dan meningkatkan keikutsertaan masyarakat untuk meningkatkan taraf gizi kesehatan msyarakat.
7.       Mampu menggunakan hasil-hasil penelitian untuk merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi upaya-upaya pelayanan gizi.

B.   Mata Ajaran yang disediakan :
1.     KMG209 : Ilmu Gizi (Nutrition)
Kompetensi
Mampu menguasai teori dan prinsip dasar ilmu gizi
Deskripsi
Membahas tentang sejarah, hubungan gizi dan kesehatan, daur hidup, komposisi tubuh, zat-zat gizi (sumber & RDA), konsep penyusunan menu dan biokimia gizi.

2.     KMG209 : praktikum Ilmu Gizi (Nutrition PRACTICE)
Kompetensi
Mampu melakukan identifikasi zat gizi dalam makanan secara kualitatif maupun kuantitatif.
Deskripsi
Mempraktekkan cara identifikasi beberapa bahan makanan dan zat gizi yang terkandung dalam makanan, baik secara kualitatif (seperti : protein telur, susu segar, zat warna sintetis, iodium dalam garam) maupun kuantitatif (kadar gula reduksi, bilangan asam pada lemak, bilangan iodium dalam lemak/minyak, angka penyabunan dalam minyak, kadar iodium dalam garam, kadar vitamin C dalam buah segar), berdasarkan prinsip/sifat-sifat fisika dan kimianya.

3.           KMG212 : Gizi Masyarakat (Community Nutrition).
Kompetensi
Mampu mengidentifikasi berbagai masalah gizi di masyarakat dan faktor penyebab masalah gizi serta mengatasinya.
Deskripsi
Membahas tentang ruang lingkup gizi kesehatan masyarakat, multi-kausa  gangguan gizi, masalah gizi kurang meliputi Kurang Energi protein (KEP), Kurang Vitamin A (KVA), Anemia Gizi dan Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI), gizi pada kelompok rawan, gizi dan penyakit infeksi, gizi dan perkembanganmental, gizi lebih dan obesitas, gizi dan penyakit degeneratif.

4.           KMG305 : Ekologi Pangan dan Gizi (Food and Nutrition Ecology)
Kompetensi
Mampu mengidentifikasi dan menjelaskan keterkaitan antara masalah gizi dengan lingkungan fisik, biologi, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat.
Deskripsi
Membahas keterkaitan lingkungan (fisik dan non fisik) terhadap pola konsumsi pangan individu/masyarakat yaitu lingkungan alam (geografis), demografi (kependudukan), dan sosio ekonomi (pendidikan, ekonomi, dan sosial budaya) juga dibahas mengenai keterkaitan antara gizi dengan kesehatan serta gizi dengan pertanian.

5.           KMG342 : pengawasan dan keamanan Pangan (Food safety inspection)
Kompetensi
Mampu mengidentifikasi ketidak-amanan pangan dan faktor-faktor penyebabnya, mengklasifikasikan tingkat ketidak-amanan pangan, serta menerapkan prinsip pengawasan pangan/ makanan.
Deskripsi
Membahas tentang mutu dan keamanan pangan, sistem pengendalian dan pengawasan keamanan pangan, serta beberapa aspek yang terkait dengan pengendalian keamanan pangan (GMP, GAP, HACCP, Food Additive, dan lain-lain), sensory analysis, racun dalam makanan dan jaminan mutu.

6.     KMG344 : ketahanan Pangan (Food security)
Kompetensi
Mampu mengidentifikasi masalah yang terkait dengan ketersediaan pangan (produksi, distribusi, konsumsi), serta menetapkan kriteria kerawanan pangan.
Deskripsi
Membahas tentang unsur-unsur ketahanan pangan, faktor yang terkait dengan sistem ketahanan pangan, kriteria ketahanan pangan dan cara mengidentifikasi kerawanan pangan.

7.     KMG465 : ISU MUTAKHIR DAN SEMINAR GIZI (CURRENTS ISSUE IN Nutrition)
Kompetensi
Mampu mengidentifikasi, menganalisis dan merumuskan serta mempresentasikan masalah gizi kesehatan masyarakat yang bersumber dari jurnal dan isu-isu terkini yang ada dalam masyarakat.
Deskripsi
Menggali berbagai informasi tentang masalah gizi kesehatan masyarakat yang terkini bersumber dari berbagai jurnal baik cetak maupun elektronik serta mempresentasikannya dalam bentuk seminar tentang masalah gizi kesehatan masyarakat yang bersumber dari jurnal dan isu-isu terkini yang ada dalam masyarakat.

8.    KMG467 :  komunikasi, informasi,  edukasi dan  koNseling  Gizi  (communication, information, education and conseling OF Nutrition)
Kompetensi
Mampu memberikan informasi dan pendidikan gizi kepada individu, kelompok dan masyarakat serta melakukan konseling gizi.
Deskripsi
Membahas cara komunikasi yang tepat dalam memberikan informasi gizi dan pendidikan gizi pada individu, kelompok, dan masyarakat.


9.     KMG471 : Peniliaian Status Gizi (Nutrition Assessement)
Kompetensi
Mampu melakukan penilaian status gizi per individu dan atau masyarakat dengan berbagai metode, sebagai dasar pertimbangan dalam memberikan konseling gizi.

Deskripsi
Membahas tentang metode penentuan status gizi individu dan masyarakat secara  langsung (metode antropometri, biokimia, klinis, dan fisik) dan tidak langsung (survei konsumsi, statistik vital, faktor ekologi, dan Neraca Bahan Makanan) serta aplikasinya.

10.       KMG473  :  Perencanaan,  Implementasi  dan Evaluasi  Program  Gizi  (Planning, Implementation and Evaluation of Nutrition Program)
Kompetensi
Mampu merencanakan, mengimplementasikan dan mengevaluasi program gizi, baik program pemerintah maupun non pemerintah.
Deskripsi
Membahas berbagai program gizi yang ada di Indonesia, konsep perencanaan, implementasi dan evaluasi, dan intervensi gizi lainnya.

11.        KMG475 : Gizi Institusi (Nutrition in Institution).
Kompetensi
Mampu merencanakan dan menatalaksana-kan gizi dan makanan di institusi (Rumah Sakit, panti sosial, hotel, perusahaan, catering, dan lain-lain)
Deskripsi
Membahas cara-cara pengadaan, pengelolaan pangan dan makanan,  perencanaan menu, ketenagaan, kontrol kuantitas dan kualitas makanan, sanitasi dan hygiene diberbagai institusi antara lain hotel, rumah sakit dan perusahaan dan lain-lain.


12.        KMG477 : Epidemiologi Gizi dan Surveilans (Epidemiology and Surveillance of Nutrition)
Kompetensi
Mampu menetapkan besaran/ukuran masalah gizi, serta merancang studi epidemiologi secara deskriptif dan analitik tentang masalah gizi dan penyakit terkait gizi.
Deskripsi
Membahas tentang penerapan epidemiologi dalam bidang gizi, surveilans gizi, pemanfaatan pengukuran antropometri dan konsumsi secara epidemiologi serta proses timbulnya penyakit degeneratif sehubungan dengan faktor gizi.

13.        KMG479 : Dietetik Masyarakat (Community Dietetic)
Kompetensi
Mampu merencanakan/menyusun diet untuk tindakan pencegahan, pemeliharaan maupun perawatan/pengobatan, serta memberikan penyuluhan gizi.
Deskripsi
Membahas tentang dasar ilmu diet, diet seimbang, diet untuk kelompok umur, kegiatan dan keadaan tertentu, penyakit degeratif dan diet sehat vegetarian.

14.        KMG481 : Gizi Daur Hidup (Life Cycle Nutrition)
Kompetensi
Mampu menghitung kebutuhan/kecukupan zat gizi untuk berbagai kelompok umur, jenis kelamin, kondisi fisiologis dan kegiatan, pertumbuhan dan perkembangan manusia dari janin, bayi sampai dengan lanjut usia (lansia).
Deskripsi
Membahas peran gizi dalam sepanjang siklus kehidupan, yang mencakup pertumbuhan dan perkembangan, gizi pada wanita hamil, menyusui, bayi, balita, remaja, usia produktif dan usia lanjut.

15.        KMG483 : Teknologi Pangan dan Gizi (Food and Nutrition Technology)
Kompetensi
Mampu menguasai dasar-dasar teknologi pangan, khususnya yang berkaitan dengan aspek gizi.
Deskripsi
Membahas tentang peranan air dalam bahan makanan, sifat-sifat kimia dan fisik bahan pangan, pengawetan (pendinginan, pengeringan, fermentasi, irradiasi, additif kimia) produk pangan, teknologi produk susu, teknologi pengolahan daging, fortifikasi enriching dan suplementasi produk pangan.

Sumber:fkm.usu.ac.id

Semoga bisa bermanfaat bagi Mahasiswa Peminatan Gizi Kesmas....:)